Lompat ke konten

Fajar dan Sapuan Warna Untuk Negeri

Setiap coretan kuasnya bukan sekadar warna. Bagi Fajar, pelajar SMA asal Kotamobagu, melukis adalah cara bicara, bentuk perlawanan, dan ruang untuk berharap. Di tengah kesibukan sekolah dan tumpukan tugas yang kian menantang, Fajar memiliki cara unik dalam mengungkapkan isi hati. Bukan lewat kata atau tulisan panjang, tapi lewat kuas dan warna.

Fajar mulai mengenal dunia seni saat masih belajar di MI Alkhairat Kotamobagu. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan ketertarikan yang kuat pada lukisan. Awalnya, ia gemar melukis pemandangan alam, lalu mulai mengangkat tema-tema sosial dan moral. Sejak kecil, ia mengikuti lomba-lomba tingkat sekolah dan kota, dan beberapa kali keluar sebagai juara. Karya-karyanya juga pernah dipamerkan di berbagai kegiatan sekolah. Namun, di balik prestasi itu, perjalanan Fajar tidak selalu mudah.

“Awalnya lebih banyak tantangan daripada dukungan,” kenang Fajar. “Banyak yang meremehkan, bilang kalau lukisan itu bukan sesuatu yang penting dan hanya hobi yang membuang-buang waktu. Tapi tetap saya jalani karena saya percaya ini bagian dari diri saya.”

Fajar memilih melukis sebagai hobinya karena ia menyadari bakat yang dimilikinya dan merasa suka dengan bakat itu. Melukis bukan sekadar aktivitas, tetapi cara mengembangkan jiwa dan mengembangkan kemampuan yang ia cintai. Tujuannya adalah untuk memperdalam bakat tersebut dan menjadikan seni sebagai bagian penting dalam kehidupan. Lebih dari itu, Fajar juga memiliki impian mewujudkan perjuangan dari hobinya ini, yaitu mendapatkan penghasilan dari hasil jerih payahnya melatih dan mengembangkan bakat melukisnya. Baginya, seni bukan hanya berekspresi, tetapi juga jalan untuk mandiri dan berkontribusi secara nyata.

Dengan semangat mandiri, ia terus mengasah keterampilannya, meski tanpa fasilitas lengkap atau lingkungan yang langsung mendukung. Semangat Fajar tidak hanya melahirkan karya-karya visual yang indah, tetapi juga mewakili suatu pesan. Lewat lukisannya, ia sering mengangkat isu sosial dan lingkungan. Salah satu titik baik dalam perjalanannya adalah ketika Fajar dipercaya ikut proyek mural edukatif bersama komunitas seni di Kotamobagu. Di sana, ia dan rekan-rekannya melukis tembok dengan pesan tentang kebersihan lingkungan dan toleransi. Karya itu tak hanya mempercantik ruang publik, tapi juga menjadi media edukasi yang membumi. “Lewat lukisan, saya bisa mengangkat isu sosial dan lingkungan, membuat orang berpikir,” ujarnya.

Kini, di masa SMA, Fajar menghadapi tantangan baru. Tugas-tugas akademik yang padat dan aktivitas di sekolah yang menyita sebagian besar waktunya membuatnya tak bisa melukis setiap hari. Namun, Fajar tidak menyerah; ia tetap melukis pada waktu luang yang ada. Bagi Fajar, seni lukis adalah bentuk ekspresi sekaligus kontribusi. Ia berharap suatu hari bisa memiliki galeri seni terbuka untuk umum, tempat siapa pun bisa menikmati karya dan belajar seni. Ia ingin lukisannya menyentuh hati orang lain dan menjadi inspirasi, serta membuktikan bahwa seni bisa menjadi alat perubahan, terutama bagi generasi muda yang sering ragu menunjukkan bakatnya. Pesan dan harapannya untuk generasi muda pun sederhana namun bermakna: “Jangan takut berkesenian. Seni itu juga alat perubahan, dan kita semua bisa jadi bagian dari itu. Kalau kamu punya bakat, kembangkan. Berkarya itu bentuk keberanian juga.”

Kisah Fajar ini bukan hanya tentang lukisan, tetapi tentang karakter. Ia menunjukkan bahwa Pelajar Pancasila bukan hanya mereka yang cerdas secara akademik, tetapi juga mereka yang kreatif, peduli, dan berani mengambil peran melalui bakat yang dimiliki. Sekaligus membuktikan bahwa seni bisa jadi media perubahan dan wujud nyata karakter pelajar Pancasila yang berdaya cipta, peduli, dan penuh makna. Fajar percaya, setiap karya punya suara. “Kalau kamu punya bakat, kembangkan.Berkarya itu bentuk keberanian,” pesannya. Ia ingin terus melukis, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk menyentuh hati banyak orang. Karena bagi Fajar, membangun negeri bisa dimulai dari lembaran kanvas.

Penulis : Putri Rompis (Duta Baca MAN 1 Kotamobagu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *